Biaya homeschooling murah di indonesia?

Biaya sekolah homeschooling yang murah di indonesia tahun ini ?

Saat ini banyak orang tua dan anak – anak mengambil alternatif untuk memutuskan pendidikan anak – anaknya melalui jalur homeschooling. dan banyak orang mencari mengenai biaya pendidikan komunitas homeschooling yang murah dan terjangkau di indonesia. jika kita melihat bahwa ada beberapa penyelanggara pendidikan non formal yang membuka layanan homeschooling dengan berbagai variasi dan biaya yang berbeda – beda, tetapi mindset kebanyakan orang tua bahwa biaya homeschooling itu sangat mahal. kenapa mahal karena didalam komunitas homeschooling biaya kelas belajar tidak terlalu banyak dan cenderung hanya 1 atau dua orang atau boleh dikatakan semi private. komunitas anak panah homeschooling memberikan layanan komunitas pendidikan sekolah rumah atau sekolah homeschooling yang murah dan terjangkau yang meliputi kurikulum homeschooling disesuaikan dengan kurikulum nasional. berikut adalah informasi biaya atau harga sekolah komunitas homeschooling cyberschool anak panah :

Biaya & Administrasi Homeschooling

A. Persyaratan :

1. Mengisi registrasi online
2. Copy akte kelahiran
3. Copy KTP & KK orang tua
4. Foto anak seragam putih.
5. Fotocopy ijasah terakhir

B. Biaya Administrasi

Sekolah Dasar :

  1. Uang Pangkal, Registrasi & Administrasi Rp. 1.000.000
  2. Penyelenggaraan pendidikan, buku paket, multimedia, e-learning & akses online test Rp. 3.000.000/tahun
  3. Ulangan Online Rp.150.000/bulan/5 mata pelajaran

Sekolah Menengah Pertama :

  1. Uang Pangkal, Registrasi & Administrasi Rp. 1.000.000
  2. Penyelenggaraan pendidikan, buku paket, multimedia, e-learning & akses online test Rp.3.200.000/tahun
  3. Ulangan Online Rp. 200.000/bulan/6 mata pelajaran

Sekolah Menengah Atas :

  1. Uang Pangkal, Registrasi & Administrasi Rp. 500.000
  2. Penyelenggaraan pendidikan, buku paket, multimedia, e-learning & akses online test Rp.3.500.000/tahun.
  3. Ulangan Online Rp. 200.000/bulan/7 mata pelajaran.

C. Modul dan paket pendukung yang akan diterima Oleh Siswa.

1. Kartu pelajar
2. Topi snapback anak panah
3. Buku paket 5 Buku Mapel SD, 6 Buku Mapel SMP, 7 Buku Mapel SMA
4. Buku rapor hasil belajar
5. Multimedia 6 mata pelajaran inti
6. E-book & aplikasi multimedia
7. Kaos seragam anak panah
8. Mendapatkan akses login online test, berlaku 1 tahun disini
9. Free biaya pengiriman modul hanya domisili di Indonesia

D. Rekening sekolah anak panah

BRI Syariah an : ANAK PANAH SCH – No: 1022167681 – KCP Intercon Plaza. Kebun Jeruk. DKI Jakarta.

jika ada pertanyaan Berapa biaya sekolah homeschooling yang murah di indonesia, jawabannya adalah variatif tetapi anak panah melayani pendidikan komunitas homeschooling yang sangat terjabiaya sekolah homeschoolingngkau dan bisa di bilang murah. Lebih lanjut dibawah ini kami jelaskan apakah sebenarnya homeschooling

Kalau di Amerika Serikat (AS) dan di dunia, HS sudah lama berkembang. HS terdiri dari tiga jenis. Pertama, HS tunggal. Ini penggiatnya adalah satu keluarga. Kemudian HS majemuk terdiri dari dua keluarga, dan terakhir HS komunitas. Komunitas ini dibentuk dengan metode pembelajarannya secara tutorial. HS tunggal dilakukan di rumah. HS itu adalah bagaimana proses kegiatan belajar, di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja.

Bagaimana sistemnya? Maksudnya, jika saya sebagai orang tua ingin memasukkan anak ke HS, apakah saya harus berhubungan dengan Anda lalu apakah Anda mendesain kurikulum dan sistem sekolah sendiri atau kita dilibatkan?

Itu berarti masuk ke HS komunitas. HS Komunitas adalah beberapa keluarga memberikan kepercayaannya untuk mendidik anak-anaknya ke dalam HS. Proses pembelajarannya melalui tutorial. Salah satunya Anak Panah Cyberhomeschooling.

Kita mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial. Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan. Mereka melaksanakan, misalnya, pertemuan tiga kali dalam satu minggu. Ada paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), paket B setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan paket C setara Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi kunjungannya adalah kunjungan ke komunitas. Bila keluarga atau peserta didik kekurangan informasi akademisnya maka mereka bisa memanggil gurunya ke suatu tempat. Kalau di sekolah formal kita melihat kelas satu berada di dalam satu ruangan, kelas dua di ruang lain dengan materi pelajaran yang berbeda.

Kita memberikan masing-masing peserta didik kebebasan dalam memilih pembelajaran tapi tidak terlepas dari kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum Nasional yaitu KTSP atau kurikulum 2013.

Jadi tetap ada acuannya karena nanti di ujung dari proses pendidikan HS ada ujian kesetaraan. Kalau di pendidikan formal itu Ujian Nasional (UN), sedangkan di pendidikan non formal komunitas ini ada ujian kesetaraan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa menyelenggarakan ujian tersendiri.

Dalam hal ini ada yang sudah bosan di kelas dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, dia dapat pindah ke kelas tiga di HS. Itu tidak masalah karena berdasarkan prinsip Diknas untuk ini adalah multi entry and multi exit atau mudah untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA.

HS ini metode pembelajarannya tematik dan konseptual serta aplikatif. Misalnya untuk tingkatan SD, dalam mempelajari alat transportasi maka mereka bisa pergi langsung naik alat transportasi. Misalnya, naik metro mini. Di metro mini ada sopir, kondektur, dan kita harus membayar. Jadi di HS kesempatan untuk mengenal langsung alat transportasi cukup besar. Lalu mereka turun dan naik busway dengan harus beli tiket dulu, antri. Itu terekam sekali di otak anak-anak. Setelah itu, besoknya kita memberikan paparan mengenai alat transportasi. Kita coba tes ke anak-anak dan mereka bisa menulis mengenai alat transportasi berlembar-lembar.

Jadi itu mungkin keunggulan HS.

Ya, karena proses belajarnya tematik dan aplikatif. Contoh lain, kita ajak mereka untuk belajar menanam. Kita ajak ke ahlinya seperti ke Ciawi sekalian outbond. Mereka belajar cara menanam. Besoknya kita coba evaluasi dan mereka begitu antusias sehingga bisa menulis berlembar-lembar. Jadi benar-benar aplikatif. Kalau secara keseharian , orang tua bisa mengajarkan dari dia bangun tidur dan kapan dia mau belajar. Jadi belajar bukan sebagai kewajiban tapi kebutuhan bagi anak-anak.

Jadi dalam hal ini orang tua terjun langsung?

Iya, terjun langsung. Kalau misalnya kekurangan informasi mengenai akademis, mereka bisa panggil tutor. Mereka mau tahu tentang bahasa Inggris maka mereka bisa ambil kursus. Jadi waktunya bisa lebih banyak, dan belajar sangat menyenangkan buat mereka karena memang didasari oleh kebutuhan.

Ini harus dilihat dari kondisi orang tuanya. Kalau kedua orang tua bekerja, tapi menginginkan anaknya untuk HS mungkin lebih tepat ke HS komunitas. Sedangkan untuk HS tunggal agak susah karena orangtua harus full. Jadi untuk komunitas itu sifatnya tutorial, dan hadir di kegiatan komunitas. Pendidikan bukan hanya soal kita menambah pengetahuan atau ilmu di segala macam bidang, namun ada hal yang perlu juga seperti interaksi dengan kawan-kawan lainnya.

Bagaimana sosialisasi pada murid HS?

Saya melihat sosialisasi anak-anak HS begitu terjaga. Kita mengajak mereka ke pasar. Kita perkenalkan juga kepada anak-anak pasar. Kita tanya, “Apakah kamu bersekolah atau tidak? Apa kegiatan kamu?”. Lalu kita bawa juga mereka ke alam terbuka dan ke rumah singgah. Kalau lingkungan untuk pendidikan formal mungkin ada keterbatasannya. Temannya hanya itu-itu saja. Besok ketemu si A dan besoknya ketemu si A lagi karena satu lingkup sekolah. Sosialisasi di HS juga cukup efektif karena mereka bisa lebih banyak waktunya untuk berhubungan lewat internet. Mereka bisa lebih banyak ada kesempatan untuk pergi ke luar. Jadi mengenai sosialisasi tidak ada masalah. Yang paling penting juga adalah kita memberikan kemandirian, yaitu dalam belajar dan mengambil keputusan. Kita juga memberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Jadi sejak dini mereka sudah dilatih untuk bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

Berapa banyak peserta didik home schooling saat ini di Indonesia ?

Banyak. Home schooler yang terdata di Jakarta ada 1.500-an belum di daerah Indonesia lainnya.

Apakah di komunitas belajarnya setiap hari ?

Belajar di komunitas satu minggu dua kali sebanyak tiga jam untuk masing-masing pertemuan. Kita mengarahkan supaya mereka nanti banyak belajar di rumah dan di lingkungan yang mereka mau belajar.

Bagaimana dengan sertifikat atau ijazah kelulusan untuk HS karena biasanya kita mau tidak mau harus memiliki itu untuk mendapatkan akreditasi dan segala macamnya. Apakah legalitas itu sudah ada dari Diknas?

Diknas sangat memperhatikan sekali pendidikan alternatif. Kini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Itu adalah pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat untuk merespons HS, dan banyaknya kekecewaan terhadap Ujian Nasional (UN). Orang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat SD. Orang bisa ikut ujian kesetaraan dan jika lulus akan mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan SMA juga ada. Ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Jadi sudah dilegalitas oleh pemerintah.

Dalam hal ini memang ada kelemahannya di HS, yaitu tidak ada kompetisi atau bersaing. Tapi keunggulannya yang paling dominan adalah dengan terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing anak peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan fisika. Kita mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi peserta didik masing-masing.

Sejak kapan HS ada di Indonesia dan apakah ada kisah sukses orang-orang yang ikut HS karena di masyarakat dia mendapatkan sertifikasi hampir sama dengan orang-orang yang sekolah formal?

Mungkin kita bisa melihat pada Ki Hajar Dewantoro. Jika saya melihat dari sejarah Ki Hajar Dewantor, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka HS. Lalu Ketua BEM UI sekarang dia ikut HS juga. Kalau di luar negeri yaitu Bill Gates dan Thomas Alfa Edison. Kalau saya membaca sejarahnya, mereka tidak belajar di sekolah formal. Malah mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Ini untuk memperkuat supaya kita tidak khawatir. HS sama dengan sekolah formal pada umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *